Tips Liburan

Larangan dan Pantangan Saat Mengunjungi Pura di Bali

1
×

Larangan dan Pantangan Saat Mengunjungi Pura di Bali

Sebarkan artikel ini
rules/aturan pura

Halo! Kalau ngomongin Bali, rasanya nggak lengkap ya kalau liburan ke Pulau Dewata tanpa mampir ke pura-puranya yang super estetik dan magis. Dari Pura Uluwatu yang punya sunset juara dengan tarian Kecaknya, Pura Tanah Lot yang ada di tengah laut, sampai Pura Lempuyang yang hits banget buat foto “Gerbang Surga”. Semuanya emang wajib banget masuk itinerary liburan kamu.

Tapi, ada satu hal penting banget yang sering kali terlewat sama wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Pura di Bali itu bukan sekadar tempat wisata biasa atau museum sejarah. Pura adalah tempat suci yang sangat aktif digunakan oleh umat Hindu Bali untuk beribadah setiap harinya. Jadi, atmosfer religiusnya itu kental banget.

Karena ini tempat suci, otomatis ada aturan mainnya alias etika yang harus banget kita patuhi. Orang Bali itu sangat ramah dan terbuka (konsep Tat Twam Asi), mereka senang banget pura mereka dikunjungi. Asalkan, kita sebagai tamu juga tahu diri dan menghargai adat istiadat setempat. Istilahnya, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Biar liburan kamu lancar, nggak ditegur sama Pecalang (petugas keamanan adat Bali), dan pastinya tetep dapet vibes positifnya, yuk kita bahas tuntas apa aja sih larangan dan pantangan saat mengunjungi Pura di Bali. Bahasa kita santai aja ya, biar gampang dimengerti!

Kenalan Dulu Sama Tiga Zona Pura (Tri Mandala)

Sebelum masuk ke larangan, kamu perlu tahu sedikit nih soal arsitektur pura di Bali. Pura itu biasanya dibagi jadi tiga area atau halaman, yang disebut Tri Mandala:

  1. Nista Mandala (Area Luar): Ini zona paling luar, biasanya tempat parkir, area persiapan, atau tempat kumpul sebelum acara dimulai. Di sini aturannya belum terlalu ketat.
  2. Madya Mandala (Area Tengah): Masuk ke sini, kamu udah harus mulai jaga sikap dan wajib pakai pakaian yang sopan (pakai kain). Biasanya di sini ada pendopo atau bale buat persiapan sembahyang.
  3. Utama Mandala (Area Paling Suci/Dalam): Ini inti dari pura, tempat berdirinya pelinggih (tempat pemujaan Tuhan dan leluhur). Aturan di sini super ketat dan biasanya wisatawan umum cuma boleh lihat dari batas Madya Mandala, kecuali kamu mau ikut sembahyang atau ada upacara tertentu.

Nah, sekarang setelah tahu zonanya, ini dia daftar larangan yang wajib kamu catat:

1. Dilarang Keras Masuk Bagi Wanita yang Sedang Datang Bulan (Haid)

Ini adalah aturan nomor satu dan yang paling mutlak. Dalam kepercayaan Hindu Bali, ada konsep yang namanya Cuntaka (masa tidak suci secara spiritual). Darah menstruasi dianggap sebagai salah satu bentuk cuntaka.

BACA  Apa itu Bali Belly ? Tips Aman Untuk Menghindari Bali Belly

Bukan berarti wanita haid itu kotor secara fisik atau didiskriminasi ya, sama sekali bukan. Ini murni soal menjaga energi kesucian (spiritual) di area pura. Energi suci di dalam pura dipercaya bisa berbenturan dengan energi cuntaka, yang dipercaya bisa membawa dampak kurang baik secara spiritual, baik untuk puranya sendiri maupun untuk fisik si wanita tersebut (seperti mendadak pusing atau lemas). Jadi, kalau kamu lagi dapet, mending tunda dulu ya masuk ke area pura. Foto-foto di area luar atau Nista Mandala biasanya masih aman, tapi tanya petugas dulu pastinya.

2. Dilarang Pakai Baju Terbuka dan Celana Pendek (Wajib Berpakaian Sopan)

Masuk pura pakai tank top, kemben, celana gemes, atau baju renang? Wah, siap-siap aja diadang di pintu masuk. Karena ini tempat ibadah, pakaian wajib tertutup dan sopan.

Aturan Pakaian Wajib:

  • Kamen (Kain Sarung): Baik laki-laki maupun perempuan wajib memakai kamen yang menutupi kaki sampai ke mata kaki (atau minimal di bawah lutut). Kalau kamu nggak bawa, tenang aja, hampir semua pura wisata nyewain atau minjemin kain ini gratis di loket tiket.
  • Selendang (Senteng): Ini juga wajib. Selendang diikatkan di pinggang. Maknanya keren lho: sebagai simbol mengikat niat buruk dan hawa nafsu agar tetap berada di bawah (perut ke bawah), sehingga pikiran kita tetap bersih saat masuk ke tempat suci.
  • Atasan Tertutup: Usahakan pakai baju yang menutupi bahu. Kalau pakai sleeveless, mending akalin pakai jaket atau kardigan selama di dalam pura.

3. Dilarang Berbuat Mesra (No PDA – Public Display of Affection)

Buat kamu yang lagi honeymoon atau liburan bareng pacar, tahan dulu ya hasrat buat pamer kemesraannya. Pegangan tangan mungkin masih bisa dimaklumi di area luar, tapi kalau udah peluk-pelukan mesra, apalagi sampai ciuman bibir di area pura, itu sangat dilarang dan dianggap menodai kesucian tempat tersebut. Pura adalah tempat memusatkan pikiran kepada Tuhan, bukan tempat pacaran.

4. Larangan Masuk Bagi yang Sedang Berduka (Keluarga Meninggal)

Masih nyambung dengan konsep Cuntaka di atas. Kalau kamu punya keluarga inti (orang tua, anak, saudara kandung) yang baru saja meninggal dunia, kamu juga dianggap sedang dalam masa cuntaka. Biasanya masa berduka ini punya rentang waktu tertentu sesuai adat sebelum orang tersebut dianggap “bersih” secara spiritual dan boleh masuk pura lagi. Jadi kalau kamu baru banget kehilangan anggota keluarga, ada baiknya menghindari masuk ke area utama pura untuk menghormati tradisi ini.

BACA  Mengetahui Geografis Bali Sebelum Liburan ke Bali

5. Dilarang Berbicara Kasar, Mengumpat, dan Bertengkar

Jaga lisan dan emosi! Kadang cuaca Bali panas banget, jalanan macet, dan pas sampai pura bawaannya pengen marah. Tapi ingat, tahan emosimu. Mengucapkan kata-kata kotor, makian, atau berantem mulut di dalam pura itu sangat pantang. Umat Hindu sangat menjaga keharmonisan dan energi positif di tempat suci. Kata-kata kasar diyakini bisa mencemari vibrasi positif di pura tersebut. Kalau emang lagi bad mood, mending minum es kelapa dulu di luar sampai tenang, baru masuk.

6. Jangan Sembarangan Melangkahi atau Menginjak Canang Sari

Kamu pasti sering lihat kotak janur kecil berisi bunga warna-warni dan dupa di Bali. Itu namanya Canang Sari, salah satu bentuk persembahan umat Hindu. Di pura, sesajen ini ada di mana-mana: di tanah, di tangga, di patung.

Tolong perhatikan langkah kakimu. Jangan sampai sengaja menginjak atau melangkahi canang tersebut. Kalau nggak sengaja keinjak gimana? Ya nggak apa-apa, namanya juga nggak sengaja. Cukup bilang “Maaf” dalam hati, dan lebih hati-hati lagi. Tapi kalau sengaja ditendang atau dilangkahi padahal udah lihat, itu sangat tidak sopan.

7. Aturan Posisi: Jangan Duduk atau Berdiri Lebih Tinggi dari Pemangku dan Pelinggih

Kalau kamu kebetulan lagi nontonin upacara keagamaan di pura, perhatikan posisimu berdiri atau duduk. Usahakan kepalamu tidak berada lebih tinggi dari Pemangku (Pendeta Hindu) yang sedang memimpin upacara, atau dari orang-orang yang sedang duduk bersila/bersimpuh untuk sembahyang. Jangan juga memanjat tembok pura, patung, atau pelinggih (bangunan suci) cuma demi dapet angle foto yang bagus. Itu sangat tidak pantas dan bisa bikin warga lokal tersinggung berat.

8. Etika Mengambil Foto dan Video

Boleh nggak sih foto-foto di pura? Boleh banget! Tapi ada aturannya:

  • Jangan memotret dengan flash yang menyilaukan ke arah orang yang sedang khusyuk sembahyang atau ke wajah Pendeta.
  • Jangan berdiri tepat di depan orang yang sedang berdoa hanya demi memotret arsitektur di belakangnya.
  • Dilarang keras berpose nyeleneh, seperti pose yoga dengan mengangkat kaki tinggi-tinggi di depan bangunan suci, atau pose menantang lainnya. Tetaplah berpose natural dan sopan.

9. Aturan Khusus Membawa Bayi

Di Bali, bayi yang pusarnya belum puput (belum lepas) atau kadang sebelum upacara Telu Bulanan (105 hari), masih dianggap rentan secara spiritual dan secara adat belum diperkenankan masuk ke tempat-tempat suci tertentu. Aturan ini bisa berbeda-beda tiap desa adat, tapi kalau kamu bawa bayi yang masih sangat merah (baru lahir), sebaiknya bertanyalah dulu kepada penjaga pura apakah diperbolehkan masuk.

BACA  Panduan Super Asyik Menikmati Liburan di Bali Ketika Hujan Turun

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan) Seputar Mengunjungi Pura

Biar makin jelas, ini beberapa pertanyaan yang sering banget ditanyain sama wisatawan:

Q: Kalau saya non-Hindu, boleh ikutan sembahyang di Pura nggak?
A: Secara umum, umat Hindu Bali sangat terbuka. Kalau kamu memang punya niat tulus untuk berdoa kepada Tuhan (sesuai keyakinanmu) dan ikut merasakan kedamaian di sana, banyak pemangku yang memperbolehkan. Syaratnya, kamu harus ikut aturan pakaian secara penuh (pakai kamen, selendang, dan udeng untuk laki-laki), serta mengikuti tata krama duduk dan berdoa. Tapi kalau niatnya cuma buat konten pura-pura sembahyang, mending jangan ya!

Q: Saya lagi haid tapi pengen banget lihat tari Kecak di Uluwatu, gimana dong?
A: Tenang! Area pertunjukan tari Kecak di Pura Uluwatu itu terletak di sebelah luar dari area utama pura (Utama Mandala). Tempat duduk penonton (amfiteater) itu area yang aman. Jadi wanita yang sedang haid tetap diperbolehkan masuk ke area teater untuk menonton tari Kecak, asalkan tidak masuk ke dalam gerbang puranya sendiri.

Q: Kain (Kamen) yang disewakan di pura itu bersih nggak sih?
A: Biasanya pengelola pura sangat menjaga kebersihan kain-kain tersebut dan rutin mencucinya. Tapi, di musim liburan puncak (high season), karena saking banyaknya pengunjung, kadang kainnya dipakai bergantian dengan cepat. Kalau kamu orangnya picky atau gampang risih, sangat disarankan buat beli kain Bali sendiri di pasar suci atau toko oleh-oleh sebelum tur. Harganya murah kok, mulai dari 30-50 ribuan aja dan bisa jadi kenang-kenangan!

Q: Apakah ada larangan membawa makanan dan minuman ke dalam Pura?
A: Sebaiknya jangan makan dan minum sambil berjalan-jalan di area suci (Utama Mandala), apalagi buang sampah sembarangan. Kalau kamu bawa botol air minum di tas sih nggak masalah, tapi minumlah di area luar (Nista Mandala) agar tidak mengganggu kesucian dan kebersihan area sembahyang.

Q: Gimana kalau saya nggak sengaja ngelanggar aturan di atas?
A: Orang Bali itu pemaaf dan memaklumi kalau wisatawan benar-benar tidak tahu (ketidaktahuan yang murni, bukan disengaja). Kalau kamu ditegur sama Pecalang atau warga lokal, cukup minta maaf dengan tulus, senyum, dan ikuti arahan mereka (misalnya disuruh mundur atau mengganti pakaian). Jangan malah marah balik atau berdebat ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *