Halo semuanya! Kalau kita membicarakan Pulau Dewata Bali, rasanya kurang lengkap kalau hanya membahas pantai yang indah atau tempat nongkrong yang asyik. Bali itu kaya banget dengan budaya dan tradisi keagamaannya yang selalu bikin kita kagum. Salah satu perayaan yang paling ditunggu-tunggu dan punya suasana khas banget di Bali adalah Hari Raya Saraswati. Buat kalian yang pernah tinggal atau sekolah di Bali pasti sudah nggak asing lagi dengan hari raya yang satu ini. Nah, buat yang belum tahu atau ingin tahu lebih dalam soal tradisi merayakan turunnya ilmu pengetahuan ini, mari kita bahas tuntas di artikel ini.
Apa Sebenarnya Hari Raya Saraswati Itu?
Kalau kita artikan secara sederhana, Hari Raya Saraswati adalah hari di mana umat Hindu di Bali memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati. Dewi Saraswati ini dipercaya sebagai dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Coba deh kalian perhatikan patung atau lukisan Dewi Saraswati yang ada di pura atau sekolah. Beliau selalu digambarkan sebagai sosok dewi yang cantik jelita, bertangan empat, dan duduk di atas bunga teratai dengan ditemani oleh burung angsa dan burung merak.
Setiap simbol yang ada di penggambaran Dewi Saraswati itu punya makna yang keren banget loh. Sosoknya yang cantik melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu pada dasarnya adalah sesuatu yang indah dan sangat menarik untuk dipelajari. Lalu, empat tangannya memegang beberapa benda penting. Ada keropak atau lontar yang melambangkan sumber ilmu pengetahuan. Ada juga genitri atau tasbih yang menjadi simbol bahwa proses belajar itu tidak ada habisnya dan terus berputar sepanjang hidup. Terus beliau juga memegang alat musik wina atau rebab yang melambangkan seni, budaya, dan harmoni alam semesta. Sedangkan bunga teratai melambangkan kesucian, karena teratai bisa tumbuh mekar dengan indah meskipun hidup di tempat yang berlumpur.
Kapan Sih Saraswati Dirayakan?
Berbeda dengan hari raya besar lain seperti Nyepi yang dirayakan setahun sekali berdasarkan kalender Saka, Hari Raya Saraswati ini datangnya lebih cepat. Peringatan ini dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan sistem kalender Pawukon Bali. Tepatnya, hari raya ini selalu jatuh pada hari Sabtu Umanis wuku Watugunung.
Karena dihitung pakai kalender Bali yang siklusnya lebih pendek dari kalender Masehi biasa, dalam satu tahun Masehi kadang-kadang kita bisa merayakan Hari Raya Saraswati sampai dua kali. Peringatan ini selalu identik dengan hari anak sekolah, karena memang fokus utamanya adalah bersyukur atas ilmu pengetahuan yang kita dapatkan dari bangku pendidikan.
Suasana Seru di Sekolah Saat Hari H
Puncak perayaan Hari Raya Saraswati selalu terjadi di hari Sabtu pagi. Kalau kalian jalan-jalan di Bali pada hari ini, jalanan pasti dipenuhi oleh anak-anak sekolah, mulai dari TK sampai mahasiswa, yang tampil rapi dan cakep-cakep banget. Mereka semua memakai pakaian adat Bali ke sekolah atau kampus masing-masing. Yang cowok biasanya pakai udeng, kemeja putih, dan kamen. Sedangkan yang cewek tampil anggun dengan kebaya, selendang, dan rambut yang diikat rapi.
Di sekolah, suasana belajar mengajar ditiadakan. Sebagai gantinya, semua murid dan guru berkumpul di pura sekolah untuk melakukan persembahyangan bersama. Buku-buku pelajaran, buku tulis, alat tulis, sampai laptop yang dipakai untuk belajar biasanya dikumpulkan di satu tempat untuk diberikan banten atau sesajen khusus. Ini adalah bentuk rasa terima kasih karena benda-benda tersebut sudah menjadi media utama kita untuk menuntut ilmu. Buku-buku itu kemudian diperciki tirta atau air suci sebagai simbol penyucian.
Pantangan Unik yang Ada Saat Saraswati
Ada satu hal unik yang menjadi tradisi dan kepercayaan saat Hari Raya Saraswati. Di hari raya ini, umat Hindu punya pantangan untuk tidak membaca dan menulis. Wah, kenapa gitu ya, padahal ini kan hari raya yang merayakan turunnya ilmu pengetahuan?
Usut punya usut, pantangan ini sebenarnya punya makna simbolis yang mendalam banget buat diri kita. Tidak membaca dan menulis di hari Saraswati bertujuan agar kita bisa benar-benar fokus memuja sang dewi dan merenungkan intisari dari ilmu yang sudah kita pelajari selama ini. Jadi, alih-alih terus menambah hafalan atau mengejar nilai akademis, hari itu kita diajak untuk diam dan berhenti sejenak. Kita diminta meresapi apakah ilmu yang kita miliki sudah membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih bermanfaat bagi orang lain atau belum. Barulah pada malam harinya, kita dianjurkan untuk membaca kitab suci atau buku-buku agama yang disebut dengan tradisi Malam Sastra.
Tradisi Banyupinaruh Sebagai Penutup Rangkaian Acara
Rangkaian Hari Raya Saraswati rupanya tidak berhenti di hari Sabtu saja. Keesokan harinya, yaitu pada hari Minggu Paing wuku Sinta, umat Hindu di Bali merayakan tradisi yang namanya Banyupinaruh. Kata “Banyu” artinya air dan “Pinaruh” berasal dari kata weruh yang artinya pengetahuan.
Sejak pagi buta, bahkan saat matahari belum terbit, pantai-pantai dan sumber mata air suci di Bali akan dipenuhi oleh lautan manusia. Mereka datang berbondong-bondong bersama keluarga atau teman-teman untuk melakukan ritual mandi suci atau melukat. Tujuan dari tradisi Banyupinaruh ini adalah untuk membersihkan diri atau menyucikan badan secara fisik dan batin setelah menerima anugerah ilmu pengetahuan di hari Saraswati. Mandi di pantai sambil menikmati matahari terbit bersama orang-orang tersayang benar-benar memberikan energi positif yang luar biasa untuk menyambut hari esok. Setelah mandi bersih, biasanya kegiatan dilanjutkan dengan sembahyang dan makan bersama untuk menikmati hidangan khas Bali.
Makna Penting Saraswati Buat Hidup Kita Sehari-hari
Kalau dipikir-pikir lagi, makna Hari Raya Saraswati ini sangat relevan dengan kehidupan kita di zaman sekarang. Di era digital yang serba cepat ini, informasi dan ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan dengan sangat mudah hanya lewat sentuhan jari di layar HP. Namun, punya banyak ilmu pengetahuan saja ternyata tidak cukup buat bertahan hidup dengan baik.
Saraswati selalu mengingatkan kita bahwa kepintaran otak itu harus seimbang dengan kebijaksanaan dan etika yang baik. Ilmu pengetahuan itu ibarat pisau bermata dua. Kalau dipegang oleh orang yang baik dan bijak, ilmunya bisa dipakai untuk menciptakan teknologi yang sangat membantu banyak orang. Tapi kalau dipegang oleh orang yang salah niatnya, ilmu tersebut justru bisa merusak alam dan merugikan sesama manusia. Lewat perayaan tahunan ini, kita selalu diingatkan untuk tetap rendah hati dan terus semangat belajar sepanjang hayat, karena sejatinya ilmu pengetahuan itu sangat luas dan tidak ada batasnya. Semoga kita semua selalu diberikan jalan yang terang, pikiran yang jernih, dan ilmu yang bermanfaat ya!












