Bali tidak hanya kaya akan budaya dan alamnya, tapi juga memiliki beragam flora dan fauna khas yang menjadi bagian penting dari identitas pulau ini. Mulai dari tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga satwa langka yang dilindungi, semuanya punya peran dan cerita tersendiri.
Berikut adalah daftar lengkap 6 flora dan 4 fauna asli Bali yang paling dikenal, mencerminkan kekayaan alam sekaligus warisan hayati yang patut dijaga dan dilestarikan.
Flora
Melati Bali
Melati Bali merupakan salah satu tanaman berbunga yang cukup dikenal dan sering dijumpai di Bali. Tanaman ini memiliki nama ilmiah Vallaris glabra dan banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias di pekarangan rumah, pura, taman hotel, hingga area villa. Ciri utamanya terletak pada bunganya yang kecil berwarna putih dengan aroma harum lembut, yang sering disamakan dengan wangi daun pandan. Aroma ini biasanya paling terasa saat sore hingga malam hari, sehingga menambah kesan tenang dan sejuk di sekitarnya.
Melati Bali tidak hanya berfungsi sebagai penghias taman, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap tropis khas pulau ini. Tanaman ini kerap ditanam merambat di pagar, tembok, atau pergola, menciptakan kesan alami dan asri yang menyatu dengan lingkungan sekitar. Keberadaannya sering melengkapi suasana halaman rumah tradisional Bali maupun bangunan modern yang mengusung konsep tropis.
Melati Bali tergolong tanaman yang mudah dirawat. Ia tumbuh baik di daerah dengan sinar matahari penuh dan iklim hangat seperti Bali. Penyiraman cukup dilakukan satu kali sehari untuk menjaga kelembaban tanah. Pemangkasan secara rutin juga diperlukan agar pertumbuhannya tetap rapi dan tanaman lebih rajin berbunga. Karena perawatannya sederhana dan tampilannya menarik, Melati Bali menjadi salah satu flora yang banyak dipilih untuk memperkaya keindahan dan karakter alam Bali.
Majegau
Majegau memiliki nama ilmiah Dysoxylum densiflorum dan dikenal sebagai maskot flora Provinsi Bali. Pohon ini punya posisi yang sangat penting, bukan hanya dari sisi alam, tetapi juga dari sisi budaya dan spiritual masyarakat Bali. Karena nilainya yang tinggi, Majegau sering dianggap sebagai pohon yang sakral dan dihormati.
Kayu Majegau terkenal kuat, awet, dan memiliki aroma khas, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan suci, terutama untuk Pura dan bangunan adat. Selain itu, kayunya juga sering digunakan untuk kerajinan ukiran karena teksturnya halus dan tahan lama. Nilai ekonominya pun cukup tinggi, menjadikan Majegau salah satu jenis kayu bernilai penting di Bali.
Dalam kehidupan adat dan keagamaan, Majegau juga memiliki peran khusus. Batangnya kerap digunakan dalam upacara Manusa Yadnya, sebagai simbol penyucian dan keseimbangan hidup manusia. Karena makna filosofis dan fungsinya yang kuat ini, Majegau tidak sekadar dianggap sebagai pohon biasa, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya Bali. Keberadaan Majegau sebagai maskot flora Provinsi Bali menjadi simbol keterkaitan yang erat antara alam, budaya, dan kehidupan spiritual masyarakat di pulau ini.
Bunga Jempiring
Bunga Jempiring memiliki nama ilmiah Gardenia jasminoides dan dikenal sebagai maskot Kota Denpasar. Bunga ini sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Bali karena keindahan dan aromanya yang khas. Warnanya putih bersih dengan bentuk bunga yang anggun, sementara daunnya hijau pekat, tebal, dan mengkilap, membuat tanaman ini terlihat rapi dan segar sepanjang waktu.
Ciri utama Jempiring adalah wanginya yang sangat harum dan lembut. Aromanya sering diasosiasikan dengan kesucian dan ketenangan, sehingga bunga ini banyak digunakan dalam berbagai sarana persembahyangan (banten). Kehadiran Jempiring dalam upacara adat dan keagamaan menjadi simbol keindahan, ketulusan, dan rasa bhakti.
Selain fungsi spiritual, Bunga Jempiring juga populer sebagai tanaman hias di pekarangan rumah, taman, hingga area Pura. Tanaman ini mudah dikenali dan sering ditanam karena mampu mempercantik lingkungan sekaligus memberikan aroma alami yang menenangkan. Sebagai maskot Kota Denpasar, Jempiring mencerminkan karakter kota yang bersih, indah, dan tetap menjaga nilai-nilai budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari.
Salak Bali
Salak Bali memiliki nama ilmiah Salacca zalacca var. amboinensis dan merupakan salah satu buah khas yang sangat identik dengan Pulau Bali. Salak ini berbeda dengan salak pondoh yang lebih umum dikenal. Ciri utamanya terletak pada daging buahnya yang lebih tebal, dengan tekstur khas yang sedikit masir atau berpasir saat dimakan. Soal rasa, Salak Bali punya perpaduan manis dan sepat yang unik, sehingga memberikan sensasi berbeda dan mudah dikenali.
Buah ini menjadi salah satu hasil pertanian unggulan Bali dan banyak dibudidayakan oleh masyarakat lokal. Salak Bali tumbuh sangat baik di daerah Sibetan, Kabupaten Karangasem, yang dikenal sebagai sentra utama perkebunan salak. Kondisi tanah dan iklim di wilayah ini membuat kualitas Salak Bali terkenal bagus dan konsisten, baik dari segi rasa maupun ukuran buahnya.
Selain dikonsumsi langsung, Salak Bali juga sering diolah menjadi berbagai produk, seperti manisan, dodol, hingga minuman olahan. Keberadaan Salak Bali tidak hanya berperan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kuliner dan kekayaan flora Bali yang terus dijaga dan dikembangkan hingga saat ini.
Kecemcem
Kecemcem memiliki nama ilmiah Spondias pinnata dan merupakan salah satu tanaman khas yang cukup dikenal di Bali, terutama karena manfaatnya dalam tradisi kuliner dan pengobatan herbal. Tanaman ini dikenal luas lewat daunnya yang menjadi bahan utama pembuatan minuman tradisional Bali yang disebut Loloh Cemcem.
Loloh Cemcem memiliki cita rasa yang sangat khas dan unik. Rasanya merupakan perpaduan antara asam, asin, manis, dan sedikit pedas, sehingga terasa segar dan berbeda dari minuman herbal pada umumnya. Minuman ini biasanya dikonsumsi untuk menyegarkan tubuh dan dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan, terutama untuk membantu pencernaan dan menjaga daya tahan tubuh.
Dalam konteks flora Bali, Kecemcem bukan hanya sekadar tanaman liar atau tanaman pekarangan, tetapi juga bagian dari warisan budaya kuliner Bali yang masih dilestarikan hingga sekarang. Tanaman ini sering tumbuh di sekitar rumah atau kebun masyarakat, mudah dirawat, dan memiliki nilai tradisional yang kuat. Keberadaan Kecemcem menunjukkan bagaimana alam Bali dimanfaatkan secara alami dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Jeruk Bali
Jeruk Bali memiliki nama ilmiah Citrus maxima. Walaupun namanya “Jeruk Bali” dan buah ini memang banyak ditemukan di Pulau Bali, tanaman ini sebenarnya juga tersebar luas di berbagai wilayah Asia Tenggara. Meski begitu, Jeruk Bali sudah sangat lekat dengan identitas Bali dan sering dianggap sebagai salah satu buah khas daerah ini.
Ciri yang paling mudah dikenali dari Jeruk Bali adalah ukurannya yang besar dibandingkan jenis jeruk lainnya. Kulit buahnya tebal, bertekstur kasar, dan bagian dalamnya berisi daging buah yang berwarna cerah dengan rasa segar. Perpaduan rasa manis dan sedikit asam membuat Jeruk Bali cocok dikonsumsi langsung maupun dijadikan campuran berbagai olahan makanan dan minuman.
Di Bali, Jeruk Bali sering ditanam di kebun atau pekarangan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai tanaman buah, tetapi juga melengkapi kekayaan flora Bali yang mencerminkan iklim tropis dan kesuburan tanah pulau ini. Karena ukurannya yang mencolok dan tampilannya yang khas, Jeruk Bali menjadi simbol kelimpahan alam dan hasil bumi yang melimpah di Bali.
Fauna
Jalak Bali
Jalak Bali memiliki nama ilmiah Leucopsar rothschildi dan ditetapkan sebagai maskot fauna Provinsi Bali. Burung ini tergolong sangat langka dan dilindungi, sehingga keberadaannya menjadi simbol penting pelestarian satwa di Bali. Jalak Bali juga dikenal sebagai salah satu burung paling ikonik yang hanya dimiliki oleh pulau ini.
Ciri khas Jalak Bali terlihat jelas dari bulu putih bersih yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Warna hitam hanya terdapat di bagian ujung sayap dan ekor, sementara pelupuk matanya berwarna biru cerah yang mencolok. Penampilannya yang anggun dan kontras membuat burung ini mudah dikenali dan sangat unik dibandingkan jenis burung lainnya.
Jalak Bali merupakan hewan endemik yang hanya bisa ditemukan di bagian barat Pulau Bali, khususnya di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Kawasan ini menjadi habitat alami sekaligus pusat konservasi Jalak Bali, tempat upaya perlindungan dan pengembangbiakan terus dilakukan agar spesies ini tetap lestari.
Anjing Kintamani

Anjing Kintamani memiliki nama ilmiah Canis familiaris atau Canis lupus familiaris dan dikenal sebagai anjing ras asli Bali yang sudah diakui secara internasional. Ras ini menjadi kebanggaan Bali karena keunikannya yang terbentuk secara alami dan telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat setempat.
Ciri khas Anjing Kintamani terlihat dari posturnya yang tegap dan proporsional. Bulunya lebat, terutama di bagian leher atau tengkuk yang menyerupai surai, dengan ekor yang melengkung ke atas. Selain penampilannya yang gagah, anjing ini juga dikenal memiliki sifat pemberani, waspada, dan sangat setia kepada pemiliknya, sehingga sering dijadikan anjing penjaga sekaligus anjing peliharaan keluarga.
Sesuai namanya, Anjing Kintamani berasal dari kawasan pegunungan Kintamani, Kabupaten Bangli. Lingkungan pegunungan yang sejuk dipercaya membentuk karakter fisik dan mentalnya yang kuat. Hingga kini, Anjing Kintamani tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali, tetapi juga simbol fauna lokal yang berhasil dikenal dan dihargai di tingkat dunia.
Rusa Timor
Rusa Timor memiliki nama ilmiah Rusa timorensis dan termasuk satwa dilindungi di Indonesia. Di Bali, rusa ini menjadi bagian penting dari ekosistem alam, terutama di wilayah konservasi. Keberadaannya dijaga karena populasinya tidak banyak dan berperan besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Habitat utama Rusa Timor di Bali berada di Pulau Menjangan, sebuah pulau kecil yang masih alami dan tenang. Bahkan, nama “Menjangan” sendiri berasal dari keberadaan rusa-rusa ini, karena dalam bahasa Bali, menjangan berarti rusa. Rusa Timor sering terlihat berkeliaran bebas di area pantai, padang rumput, hingga hutan di pulau tersebut.
Pulau Menjangan merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Bali Barat, yang menjadi pusat perlindungan berbagai flora dan fauna langka Bali. Kehadiran Rusa Timor di kawasan ini tidak hanya memperkaya keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi daya tarik alam yang khas dan memperkuat identitas Bali sebagai pulau yang peduli terhadap pelestarian satwa liar.
Harimau Bali

Harimau Bali memiliki nama ilmiah Panthera tigris balica dan merupakan salah satu satwa yang pernah hidup di Pulau Bali. Sayangnya, harimau ini kini berstatus punah (extinct) dan sudah tidak bisa lagi ditemukan di alam. Harimau Bali menjadi bagian penting dari sejarah fauna Bali dan sering disebut sebagai simbol alam liar Bali di masa lalu.
Dari segi ukuran, Harimau Bali dikenal sebagai subspesies harimau terkecil di dunia. Meski tubuhnya lebih kecil dibandingkan harimau lain, hewan ini tetap merupakan predator puncak di ekosistemnya pada masa itu. Keberadaannya dulu berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam Bali.
Harimau Bali dinyatakan punah sekitar tahun 1930-an, terutama akibat perburuan yang tidak terkendali serta hilangnya habitat alami karena perkembangan manusia. Saat ini, Harimau Bali hanya bisa dijumpai melalui catatan sejarah, foto lama, dan koleksi di museum. Kepunahannya menjadi pengingat penting akan dampak besar aktivitas manusia terhadap kelestarian satwa liar.




















