Budaya

Makna Gelang Tridatu di Bali: Bukan Cuma Buat Gaya

1
×

Makna Gelang Tridatu di Bali: Bukan Cuma Buat Gaya

Sebarkan artikel ini
Gelang Tridatu

Pernah merhatiin nggak, kalau lagi liburan ke Bali, banyak banget warga lokal atau bahkan turis yang pakai gelang benang tiga warna di pergelangan tangannya? Nah, gelang itu namanya gelang Tridatu. Buat masyarakat Bali, gelang ini punya makna yang dalem banget. Bukan sekadar aksesoris biasa atau sekadar oleh-oleh buat gaya-gayaan. Yuk, kita bahas bareng-bareng apa sebenarnya makna di balik gelang unik ini.

Apa Sih Gelang Tridatu Itu?

Kalau dibedah dari bahasanya, Tridatu berasal dari kata “Tri” yang artinya tiga dan “Datu” yang artinya elemen atau kekuatan. Jadi, Tridatu adalah susunan benang yang terdiri dari tiga warna dasar yang saling diikat, yaitu merah, putih, dan hitam.

Gelang ini biasanya diberikan oleh pemangku (pemimpin upacara adat) setelah umat Hindu selesai melakukan persembahyangan di pura. Gelang ini diikatkan ke pergelangan tangan umat sebagai bentuk anugerah dan perlindungan.

Simbol Tiga Dewa Utama (Tri Murti)

Tiga warna di gelang ini jelas nggak dipilih sembarangan. Masing-masing warna melambangkan tiga dewa utama dalam ajaran agama Hindu di Bali atau yang biasa disebut dengan Tri Murti.

  • Merah: Melambangkan kekuatan Dewa Brahma yang dipercaya sebagai sang pencipta alam semesta.
  • Hitam: Melambangkan kekuatan Dewa Wisnu yang bertugas sebagai sang pemelihara alam semesta beserta isinya.
  • Putih: Melambangkan kekuatan Dewa Siwa yang bertugas sebagai pelebur atau pengembali segalanya ke asalnya.

Dengan memakai gelang ini, umat Hindu diingatkan akan kebesaran Tuhan dalam ketiga wujud dan fungsinya tersebut, sekaligus memohon perlindungan dari beliau.

Pengingat untuk Selalu Berbuat Baik

Selain jadi simbol kehadiran Tuhan, gelang Tridatu juga jadi pengingat buat manusia tentang konsep hidup yang namanya Tri Kaya Parisudha. Konsep ini ngajarin tiga pedoman penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

  • Manacika: Berpikir yang baik, bersih, dan benar.
  • Wacika: Berkata yang baik, sopan, dan jujur.
  • Kayika: Berbuat atau bertingkah laku yang baik kepada sesama.
BACA  Makna Upacara Melasti Bagi Masyarakat Hindu Bali

Intinya, setiap kali seseorang melihat gelang ini melingkar di tangannya, dia bakal teringat untuk selalu mengontrol pikiran, menjaga omongan, dan memastikan perbuatannya nggak merugikan orang lain.

Aturan Main dan Cara Memakainya

Umumnya, gelang Tridatu dipakaikan di pergelangan tangan sebelah kanan. Karena gelang ini didapatkan melalui prosesi persembahyangan dan dianggap suci, ada baiknya pemakai juga menjaga kesuciannya.

Nggak ada pantangan yang terlalu berat dan menakutkan, sih. Yang penting jangan dipakai untuk hal-hal yang sifatnya melecehkan, jangan sengaja ditaruh di tempat kotor, atau diinjak-injak. Terus, gimana kalau gelangnya tiba-tiba putus? Tenang aja, nggak perlu panik. Benang kan memang ada masa pakainya. Kalau sudah lapuk dan putus, itu hal yang sangat wajar. Kamu cukup simpan atau buang di tempat yang bersih.

Boleh Nggak Sih Orang Non-Hindu Pakai?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul dari para wisatawan. Jawabannya, boleh banget!

Masyarakat Bali itu sangat terbuka dan toleran. Banyak turis yang datang ke pura atau ikut tur spiritual kemudian dikalungkan gelang ini oleh pemangku setempat. Wisatawan non-Hindu boleh banget ikut memakainya sebagai bentuk kenang-kenangan dan apresiasi budaya.

Tapi satu hal yang sangat ditekankan adalah pakailah dengan rasa hormat. Ingat selalu kalau benda tersebut punya nilai spiritual yang tinggi bagi warga lokal. Selama kamu menghargai maknanya dan nggak dipakai untuk hal-hal yang kurang pantas, sah-sah aja kok pakai gelang Tridatu ke mana-mana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *