Kalau kamu dengar kata Bali, apa sih yang pertama kali terlintas di pikiran? Pasti pantai yang indah, sunset yang magical, atau suasana Nyepi yang super tenang. Nah, ngomong-ngomong soal Nyepi, kamu tahu nggak sih kalau sehari setelah umat Hindu di Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian, ada satu tradisi yang suasananya justru berbanding terbalik 180 derajat?
Sehari setelah Nyepi, atau yang biasa disebut dengan hari Ngembak Geni, suasana yang tadinya hening, sepi, dan gelap gulita tiba-tiba berubah jadi pecah, ramai, dan penuh sorak-sorai di sebuah desa di Denpasar. Yap, selamat datang di tradisi Omed-omedan!
Buat kamu yang belum tahu, Omed-omedan ini sering banget dilabeli oleh wisatawan atau media luar sebagai “The Kissing Festival” alias festival ciuman. Wah, dengarnya aja udah bikin penasaran, kan? Tapi tunggu dulu, jangan keburu mikir yang aneh-aneh atau ngeres. Omed-omedan ini bukan ajang mesum atau acara bebas-bebasan, lho. Ada nilai sakral, sejarah panjang, dan kebersamaan yang kental banget di balik tradisi unik ini.
Yuk, kita bedah tuntas tentang tradisi Omed-omedan ini, mulai dari sejarahnya yang bikin merinding, gimana keseruan pelaksanaannya, sampai mitos-mitos unik yang menyertainya!
Apa Sih Sebenarnya Omed-omedan Itu?
Secara bahasa, “Omed-omedan” itu berasal dari bahasa Bali yang artinya “tarik-menarik”. Tradisi ini secara eksklusif cuma diadakan di satu tempat di seluruh dunia, yaitu di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Jadi, kamu nggak akan nemuin tradisi ini di Kuta, Ubud, atau daerah Bali lainnya.
Acara ini melibatkan Sekaa Teruna Teruni (STT) alias organisasi pemuda-pemudi di tingkat banjar (setingkat rukun warga). Syarat untuk ikut tradisi ini cukup spesifik: mereka harus pemuda dan pemudi asli Banjar Kaja Sesetan yang belum menikah (lajang), umurnya kira-kira dari 17 sampai 30 tahun.
Inti dari tradisi ini adalah sekelompok pemuda dan sekelompok pemudi yang saling berhadapan, lalu satu orang perwakilan dari masing-masing kelompok akan diangkat dan didorong ke tengah sampai mereka bertemu. Saat bertemu, mereka akan saling berpelukan, tarik-menarik, dan terkadang berciuman (biasanya di pipi atau kening, meski kadang ada yang pas di bibir karena antusiasme dorongan). Di puncak momen itu, penonton dan panitia bakal menyiram mereka dengan air sampai basah kuyup! Seru banget, kan?
Tapi sekali lagi, ini bukan sekadar ajang cari untung buat peluk-peluk lawan jenis. Kalau kamu lihat langsung, suasananya itu penuh dengan gelak tawa, rasa kekeluargaan, dan teriakan semangat. Air yang disiramkan juga punya makna untuk mendinginkan suasana, baik secara fisik maupun emosi.
Sejarah dan Mitos: Berawal dari Raja yang Sakit
Nah, pertanyaannya, kok bisa sih ada tradisi tarik-menarik begini? Gimana ceritanya?
Cerita turun-temurun di Desa Sesetan menyebutkan kalau tradisi ini sudah ada sejak abad ke-17, tepatnya di zaman kerajaan. Dulu, di kawasan Sesetan ada sebuah puri (istana) bernama Puri Oka. Suatu hari, tetua puri atau raja yang tinggal di sana sedang jatuh sakit yang cukup parah. Beliau sudah mencoba berbagai macam pengobatan, tapi nggak kunjung sembuh.
Di hari yang sama (tepat pada perayaan Ngembak Geni), anak-anak muda di sekitar puri lagi asyik main tarik-tarikan. Saking serunya, mereka ketawa-ketiwi, teriak-teriak, dan bikin suasana jadi berisik banget. Mendengar suara gaduh itu, sang raja yang lagi sakit kepala dan butuh istirahat tentu aja ngerasa terganggu. Beliau akhirnya keluar dari kamarnya dengan niat mau marah dan membubarkan kerumunan anak-anak muda tersebut.
Tapi, apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Begitu beliau keluar dan melihat keceriaan anak-anak muda yang lagi main tarik-tarikan itu, tiba-tiba rasa sakit di tubuhnya hilang! Penyakit misteriusnya mendadak sembuh total saat itu juga. Sang raja malah ikut merasa bahagia melihat warganya rukun dan penuh tawa.
Karena merasa permainan itu membawa kesembuhan dan aura positif, sang raja akhirnya menitahkan agar permainan tarik-tarikan (Omed-omedan) ini terus dilaksanakan setiap tahun pada hari Ngembak Geni. Sejak saat itulah, tradisi ini resmi jadi agenda wajib tahunan di Banjar Kaja Sesetan.
Tragedi “Dua Babi Bertengkar” dan Tolak Bala
Ada satu cerita lagi yang nggak kalah mistis soal Omed-omedan. Warga Banjar Kaja Sesetan nggak berani main-main atau coba-coba menghapus tradisi ini. Kenapa? Karena pernah ada kejadian seram waktu tradisi ini ditiadakan.
Pernah di suatu masa (konon kabarnya di era penjajahan Belanda), aparat sempat melarang pelaksanaan Omed-omedan karena dianggap mengganggu ketertiban. Warga pun terpaksa patuh dan nggak melaksanakan tradisi tersebut.
Apa akibatnya? Tiba-tiba, di tengah desa muncul dua ekor babi hutan berukuran besar yang saling berkelahi (di Bali disebut babi mepantigan). Perkelahian dua babi ini bikin warga ketakutan setengah mati. Nggak cuma itu, setelah kejadian babi bertengkar, desa tersebut dilanda musibah dan wabah penyakit misterius yang menyerang warga secara beruntun.
Para tetua desa akhirnya memohon petunjuk secara spiritual, dan jawabannya jelas: musibah itu datang karena mereka berani menghentikan tradisi Omed-omedan. Sejak kejadian mengerikan itu, nggak ada satu pun aparat atau warga yang berani melarang tradisi ini. Bahkan waktu masa pandemi COVID-19 kemarin pun, Omed-omedan tetap dilaksanakan, walaupun dengan protokol kesehatan yang sangat ketat dan hanya melibatkan perwakilan beberapa orang saja agar tradisi tetap berjalan tanpa memancing bahaya.
Jadi, bagi warga setempat, Omed-omedan ini adalah ritual Tolak Bala (menjauhkan dari mara bahaya) sekaligus bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur.
Gimana Sih Prosesi Omed-omedan Berlangsung?
Kalau kamu berkesempatan datang ke Sesetan saat Ngembak Geni, kamu bakal lihat jalanan utama banjar sudah disterilkan dari kendaraan. Aspalnya biasanya sudah basah karena dipersiapkan untuk acara. Terus, gimana urutannya?
- Sembahyang Bersama (Pekeling): Acara nggak langsung mulai dorong-dorongan. Pemuda-pemudi yang ikut akan kumpul dulu di Pura Banjar. Mereka sembahyang bersama, memohon keselamatan dan kelancaran acara kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Di sini mereka juga diperciki air suci (tirta) oleh pemangku (pendeta).
- Unjuk Gigi Seni (Barong Bungkung): Sebelum acara puncak, biasanya ada pementasan kesenian tradisional dulu, salah satunya adalah tarian Barong Bungkung (barong berbentuk babi). Ini untuk mengenang kisah babi bertengkar yang pernah terjadi di masa lalu.
- Membentuk Barisan: Setelah upacara selesai, pemuda (teruna) dan pemudi (teruni) akan dibagi jadi dua kelompok yang saling berhadapan. Jaraknya lumayan jauh, di sisi utara dan selatan jalan. Suasana bakal makin panas karena suara gamelan beleganjur ditabuh dengan tempo cepat dan menghentak!
- Aksi Tarik-tarikan: Panitia (biasanya tetua atau pecalang) akan memberikan aba-aba. Kelompok cowok akan mengangkat satu perwakilannya ke depan (biasanya digendong atau diangkat beramai-ramai). Begitu juga dengan kelompok cewek. Lalu, kedua barisan akan berlari maju sambil saling dorong sampai kedua perwakilan tadi bertemu di tengah.
- Momen Puncak & Guyuran Air: Nah, saat kedua perwakilan ini bertemu, mereka harus saling berpelukan erat. Saat itulah tarik-menarik terjadi (omed-omedan). Kalau mereka sampai berciuman, penonton bakal bersorak makin kencang. Di tengah momen pelukan itu, panitia yang bawa ember-ember air akan mengguyur mereka dengan air yang sangat banyak! Guyuran air ini adalah tanda untuk memisahkan mereka. Kalau nggak diguyur, kadang mereka susah lepas karena dorongan dari belakang terlalu kuat.
Setelah sepasang selesai, mereka mundur, dan giliran pasangan berikutnya yang diangkat. Begitu terus sampai acara selesai. Jalanan bakal jadi becek, semua orang basah kuyup, tapi senyum dan tawa nggak pernah lepas dari wajah mereka.
Makna Mendalam: Bukan Cuma Soal Fisik
Bagi orang luar yang cuma lihat dari foto atau potongan video di TikTok dan Instagram, mungkin bakal langsung nge-judge, “Kok ada tradisi kayak gitu sih? Nggak sopan!” Eits, jangan salah. Warga Banjar Kaja Sesetan menjunjung tinggi nilai moral dalam tradisi ini. Ada banyak makna filosofis yang terkandung di dalamnya:
- Menyama Braya (Persaudaraan): Ini adalah ajang silaturahmi. Setelah sehari penuh melakukan Nyepi (di mana orang dilarang keluar rumah dan ngobrol), Omed-omedan jadi momen untuk bertemu teman-teman sebaya, bertegur sapa, dan mempererat tali persaudaraan sesama warga banjar.
- Keharmonisan: Pelukan dalam Omed-omedan menyimbolkan pertemuan energi positif dan negatif (Purusha dan Pradana) yang melahirkan keharmonisan bagi desa.
- Penyucian Diri: Guyuran air nggak cuma buat seru-seruan atau misahin pelukan. Air melambangkan pembersihan dan penyucian diri. Harapannya, setelah ikut Omed-omedan, pikiran dan jiwa anak muda kembali bersih, ego dan amarah luntur oleh air yang dingin.
“Tinder” Tradisional: Ajang Cari Jodoh?
Nah, ini nih sisi fun fact yang paling disukai banyak orang! Karena pesertanya adalah pemuda-pemudi lajang alias para jomblo di banjar tersebut, Omed-omedan secara nggak langsung sering banget jadi ajang cinlok (cinta lokasi).
Bayangin aja, kamu diangkat sama teman-temanmu, lalu dipertemukan dengan crush (gebetan) yang kebetulan diangkat juga di barisan seberang. Terus di depan ratusan pasang mata kalian berpelukan dan diguyur air bareng. Gimana nggak baper coba?
Sudah jadi rahasia umum di Sesetan kalau banyak banget pasangan suami-istri yang dulunya berawal dari “insiden” Omed-omedan. Awalnya malu-malu, eh setelah acara selesai lanjut chatting, PDKT, pacaran, sampai akhirnya naik ke pelaminan. Bisa dibilang, ini adalah aplikasi kencan (seperti Tinder) versi kearifan lokal yang paling epic!
Omed-omedan Zaman Now: Sesetan Heritage Omed-omedan Festival
Seiring berjalannya waktu, potensi wisata dari Omed-omedan ini makin dilirik. Warga setempat yang cerdas nggak mau tradisi ini sekadar jadi ritual yang lewat begitu aja. Maka, dikemaslah acara ini menjadi Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOF).
Festival ini biasanya berlangsung seharian penuh. Jadi, jalanan di sekitar Banjar Kaja Sesetan nggak cuma ditutup buat Omed-omedan, tapi di sepanjang jalan bakal ada bazar UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Kamu bisa nemuin berbagai macam kuliner lokal Bali, minuman segar, sampai suvenir. Selain itu, ada juga panggung hiburan yang menampilkan band lokal Bali, musisi indie, dan tarian tradisional.
Jadi, kalau kamu datang ke sini, kamu bisa jajan-jajan cantik dulu, nonton live music, baru deh sore harinya nonton puncak acara Omed-omedan. Ini ngebuktiin kalau tradisi yang usianya ratusan tahun pun bisa beradaptasi dengan gaya hidup masa kini tanpa kehilangan kesakralannya.
Tips Buat Kamu yang Pengen Nonton Langsung!
Makin penasaran dan pengen masukin Omed-omedan ke bucket list liburanmu ke Bali tahun depan? Boleh banget! Tapi, perhatikan beberapa tips ini biar pengalaman nontonmu aman dan nyaman:
- Datang Lebih Awal: Karena ini acara setahun sekali, yang nonton tuh ribuan orang. Mulai dari warga lokal, turis domestik, sampai bule-bule bawa kamera gede. Kalau kamu datang mepet waktu acara (biasanya dimulai sekitar jam 2 atau 3 sore), kamu bakal susah dapet posisi di depan. Datanglah dari siang biar bisa booking spot enak buat nonton.
- Pakaian Kasual Tapi Sopan: Ingat, ini diawali dengan prosesi keagamaan di pura. Pakailah baju yang sopan. Kaos dan celana panjang atau celana selutut itu udah aman banget. Hindari pakai pakaian yang terlalu terbuka.
- Siap-siap Basah!: Meskipun kamu cuma penonton, peluang kamu kecipratan atau bahkan terguyur air itu guedeee banget! Panitia suka iseng nyiram penonton biar suasana makin pecah. Jadi, lebih baik pakai sandal jepit, baju ganti di tas, atau pakai jas hujan tipis kalau emang nggak mau basah.
- Amankan Barang Elektronik: Punya HP mahal atau kamera mirrorless? Wajib banget bawa dry bag atau waterproof case (pelindung anti air). Jangan sampai niat hati mau bikin Insta-story estetik, eh HP-mu mati total gara-gara ketumpahan air seember dari panitia.
- Jaga Sikap: Ikut bersorak boleh banget, tapi tetap jaga tata krama. Jangan membuang sampah sembarangan di area banjar dan ikuti arahan pecalang (petugas keamanan desa adat) setempat.
Kesimpulan
Tradisi Omed-omedan di Bali adalah bukti nyata gimana sebuah kebudayaan bisa bertahan melintasi zaman. Berawal dari cerita raja yang sakit dan babi yang bertengkar, tradisi ini berevolusi menjadi sebuah festival budaya yang ditunggu-tunggu banyak orang.
Omed-omedan mengajarkan kita bahwa menjaga tradisi nggak harus selalu dengan cara yang kaku dan membosankan. Melalui canda tawa, tarik-menarik, pelukan hangat, dan guyuran air yang dingin, masyarakat Banjar Kaja Sesetan berhasil menjaga kerukunan, mengusir bala, sekaligus menghibur ribuan orang.
Gimana, asyik banget kan ceritanya? Kalau kamu punya rencana ke Bali pas perayaan Nyepi, jangan langsung pulang besoknya. Sempatkan mampir ke Sesetan dan rasakan sendiri energi luar biasa dari tradisi ini!












