Bali memang nggak pernah ada habisnya buat dieksplorasi. Kalau kalian mulai bosan dengan pantai yang panas atau keramaian klub pantai yang bikin penat, ada satu tempat magis di daerah dataran tinggi Bali yang wajib banget masuk daftar liburan kalian. Namanya adalah Desa Wisata Penglipuran. Pasti sebagian besar dari kalian sudah pernah dengar nama desa ini, kan? Wajar saja, desa ini bukan cuma terkenal di level nasional, tapi namanya sudah mendunia karena prestasi dan keunikannya yang luar biasa.
Artikel ini bakal ngebahas tuntas soal apa saja yang ada di Desa Penglipuran, kenapa tempat ini spesial banget, sampai tips liburan santai buat kalian yang berencana mampir ke sana. Yuk, kita bahas satu-satu!
Kenapa Sih Desa Penglipuran Itu Spesial Banget?
Bayangkan kalian masuk ke sebuah perkampungan yang tata ruangnya sangat rapi. Jalanannya terbuat dari batu alam yang bersih tanpa ada satu pun sampah plastik yang berserakan. Di sepanjang jalan, mata kalian akan dimanjakan dengan tanaman hias dan bunga-bunga warna-warni yang ditanam rapi di depan rumah warga. Udah gitu, karena letaknya ada di Kabupaten Bangli yang lumayan tinggi, udaranya sejuk banget.
Desa Penglipuran ini kebersihannya nggak main-main. Tempat ini dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia, sejajar dengan Desa Giethoorn di Belanda dan Desa Mawlynnong di India. Warga di sini punya komitmen yang luar biasa kuat soal kebersihan dan kelestarian lingkungan. Mereka punya aturan adat yang ketat soal membuang sampah. Jadi jangan heran kalau kalian jalan-jalan di sini, rasanya kayak lagi ada di set film karena saking rapinya.
Satu hal lagi yang bikin tempat ini spesial: nggak ada ceritanya motor atau mobil seliweran di jalan utama desa. Semua kendaraan harus diparkir di luar area pemukiman. Hasilnya? Udara di dalam desa seratus persen bebas polusi asap knalpot, sangat tenang, dan suara yang kedengaran paling cuma obrolan santai pengunjung, angin yang meniup dedaunan, atau suara kicau burung. Benar-benar tempat pelarian yang sempurna dari sumpeknya kehidupan kota.
Sejarah Singkat dan Asal Usul Nama Penglipuran
Banyak wisatawan yang penasaran, dari mana sih nama Penglipuran ini berasal? Ada dua versi cerita yang sering dibicarakan oleh warga lokal. Versi pertama menyebutkan kalau nama Penglipuran berasal dari kata “Pengeling Pura”. Kata pengeling artinya mengingat, dan pura artinya tempat para leluhur. Jadi, desa ini awalnya dibangun untuk menghormati dan mengingat jasa para leluhur mereka yang berasal dari Desa Bayung Gede di daerah Kintamani.
Versi kedua mengartikan kata Penglipuran sebagai pelipur lara atau penghibur kesedihan. Konon katanya, pada zaman kerajaan dulu, raja-raja sering datang ke kawasan desa ini untuk menenangkan pikiran dan mencari kedamaian karena suasananya yang asri dan sangat sejuk. Kalau dipikir-pikir, versi kedua ini masuk akal banget sih. Soalnya sampai sekarang pun, siapa saja yang datang berkunjung ke sini pasti langsung merasa rileks, tenang, dan beban pikiran berasa hilang seketika.
Arsitektur dan Tata Ruang yang Mengandung Makna Mendalam
Kalau kalian perhatikan saat berjalan menyusuri desa, rumah-rumah di Desa Penglipuran ini bentuknya sangat seragam. Bagian depannya atau pintu gerbang tradisional Bali yang disebut angkul-angkul punya ukuran dan desain yang nyaris sama persis dari ujung ke ujung desa. Bahkan, bahan pembuatannya juga diseragamkan, yaitu menggunakan campuran tanah liat dan beratapkan bambu. Bambu memang menjadi elemen yang sangat penting buat kehidupan warga Penglipuran.
Tata ruang desanya juga nggak sembarangan dibikin. Masyarakat di sana memegang teguh konsep Tri Mandala, yaitu pembagian wilayah desa menjadi tiga bagian utama. Bagian paling utara yang letaknya paling tinggi dan suci disebut Utama Mandala. Ini adalah tempat di mana pura desa berada untuk memuja para dewa.
Turun sedikit ke bagian tengah, ada area yang disebut Madya Mandala. Nah, di sinilah area pemukiman warga tempat mereka tidur, beraktivitas, dan bercengkerama sehari-hari. Terakhir, di bagian paling selatan dan letaknya paling rendah ada Nista Mandala, yang difungsikan sebagai area pemakaman desa. Konsep tata letak ini bikin kehidupan warga di sana terasa sangat seimbang antara hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan dengan alam semesta.
Menjelajahi Hutan Bambu yang Teduh dan Estetik
Setelah kalian puas foto-foto di area perumahan warga, kalian wajib banget melanjutkan jalan kaki terus ke arah utara desa (ke area belakang pemukiman). Di sana, kalian akan disambut oleh kawasan hutan bambu seluas puluhan hektar yang luar biasa rindang. Hutan bambu ini bukan sekadar buat pajangan atau tempat bikin foto estetik, lho. Hutan ini adalah bagian penting dari urat nadi kehidupan desa dan terus dijaga kelestariannya sejak zaman nenek moyang mereka.
Warga desa sangat menghormati hutan bambu ini. Kalau mereka butuh bambu buat membangun rumah, memperbaiki atap, atau untuk keperluan upacara adat, mereka nggak boleh asal tebang. Ada aturan adat ketat yang mengatur kapan waktu yang tepat dan bambu mana saja yang boleh ditebang.
Suasana di dalam hutan bambu ini beneran syahdu. Cahaya matahari yang menembus celah-celah daun bambu bikin efek siluet yang cakep banget buat diabadikan kamera hape kalian. Angin sepoi-sepoi yang lewat bikin batang-batang bambu itu saling bergesekan dan mengeluarkan bunyi alam yang bikin pikiran rileks. Kalian bisa duduk-duduk sebentar di area yang sudah disediakan buat sekadar menarik napas panjang dan ngilangin penat.
Mitos Karang Memadu yang Unik dan Penuh Pesan Moral
Ada satu hal menarik yang selalu sukses bikin wisatawan kepo saat berkunjung ke Penglipuran, yaitu soal area yang bernama Karang Memadu. Di desa wisata ini, ternyata ada larangan keras bagi warga laki-lakinya untuk melakukan poligami. Aturan adat di sini mengharuskan monogami.
Kalau sampai ada warga yang nekat punya istri lebih dari satu, mereka akan dikucilkan oleh masyarakat dan dipaksa pindah dari rumah utamanya. Mereka akan ditempatkan di sebuah lahan khusus yang berlokasi di ujung selatan desa, yaitu di Karang Memadu. Orang yang tinggal di Karang Memadu ini akan mendapat sanksi sosial yang berat. Mereka tidak diizinkan melewati jalan utama desa, tidak boleh ikut kegiatan adat warga, dan bahkan dilarang keras untuk masuk ke pura desa.
Hukuman sosial yang tegas ini terbukti sangat efektif dari generasi ke generasi. Sampai sekarang, area lahan Karang Memadu itu kosong melompong. Nggak ada satu pun warga Penglipuran yang berani atau mau melakukan poligami. Aturan kuno ini secara nggak langsung nunjukin betapa warga desa sejak dulu sangat menghargai harkat martabat perempuan dan selalu menjaga keharmonisan rumah tangga. Keren banget, kan?
Icip-Icip Kuliner Khas: Loloh Cemcem dan Jaja Klepon
Jalan-jalan keliling desa dari ujung ke ujung pastinya bikin tenggorokan haus dan perut mulai keroncongan. Nah, kalian nggak perlu repot-repot keluar desa cari minimarket. Banyak warga desa yang membuka warung kecil dan berjualan makanan serta minuman ringan langsung di pekarangan rumah mereka. Kalian dipersilakan masuk ke area halaman rumah warga buat beli jajan sekaligus melihat langsung struktur rumah tradisional Bali dari jarak dekat. Warga di sana ramah-ramah banget, kalian bisa ngobrol santai sama mereka soal kehidupan sehari-hari di desa.
Satu minuman lokal yang wajib banget kalian coba adalah Loloh Cemcem. Ini adalah semacam jamu atau minuman herbal khas Penglipuran yang warnanya hijau cerah. Bahannya utamanya dari perasan daun cemcem, lalu dicampur dengan asam jawa, gula aren, dan kadang ditambahkan irisan kelapa muda di dalamnya. Rasanya unik banget di lidah. Ada sensasi manis, asam, sedikit asin, dan segar banget apalagi kalau diminum dalam keadaan dingin. Minuman tradisional ini juga dipercaya sangat bagus untuk melancarkan pencernaan dan bikin badan terasa lebih segar.
Selain minum Loloh Cemcem, kalian juga nggak boleh kelewatan nyobain jajanan tradisionalnya, terutama Jaja Klepon. Klepon buatan warga Penglipuran ini kenyalnya pas, isian gula merah cairnya lumer saat digigit di mulut, dan taburan kelapa parutnya sangat gurih. Makan klepon manis sambil minum Loloh Cemcem di teras rumah warga yang adem itu rasanya juara banget. Ini adalah pengalaman sederhana yang pastinya bakal ninggalin kesan mendalam sehabis liburan.
Pengalaman Menginap di Desa (Homestay)
Biasanya banyak wisatawan yang datang ke Penglipuran cuma buat kunjungan singkat selama satu atau dua jam saja. Padahal, kalau kalian punya jadwal yang fleksibel dan waktu yang lebih panjang, mencoba menginap di homestay Desa Penglipuran adalah pengalaman liburan yang sangat berharga. Beberapa warga desa menyewakan kamar di rumah mereka untuk turis.
Coba bayangkan, kalian bangun pagi disambut kabut tipis khas dataran tinggi, mendengar suara sapu lidi dari ibu-ibu warga yang sedang membersihkan halaman rumah, dan menghirup udara pagi yang dingin tapi sangat menyegarkan. Kalian juga bisa ikut bergabung melihat rutinitas warga lokal. Misalnya, melihat bagaimana proses membuat canang sari (sesajen harian umat Hindu di Bali) atau bahkan ikut membantu memasak di dapur tradisional mereka yang uniknya masih menggunakan kayu bakar. Saat malam tiba, suasana desa menjadi sangat sunyi, gelap yang nyaman, dan damai. Ini sangat cocok buat kalian yang pengen melakukan detoks dari hiruk pikuk kota dan menjauh sebentar dari layar gadget.
Tips Liburan Nyaman ke Desa Penglipuran
Biar kunjungan kalian ke Desa Penglipuran makin seru dan maksimal, ada beberapa tips santai yang bisa kalian ikuti:
- Datang Pagi Hari: Kalau kalian mau dapat foto yang estetik tanpa bocor (tanpa banyak orang tak dikenal lalu lalang di latar belakang), datanglah sepagi mungkin. Cahaya matahari pagi jam 7 sampai jam 9 itu bagus banget buat foto dan udaranya juga masih sangat segar.
- Pakai Pakaian Sopan: Ingat, tempat ini adalah desa adat yang warganya masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan norma agama. Pakailah pakaian yang sopan dan nyaman buat jalan kaki. Kalau mau lebih berbaur dan dapat foto bagus, kalian bisa menyewa pakaian adat Bali yang banyak disewakan di sekitar area loket tiket pintu masuk desa.
- Siapkan Uang Tunai: Walaupun sekarang zaman sudah serba digital dan pakai QRIS, membawa uang tunai pecahan kecil itu masih sangat penting. Uang tunai ini berguna buat beli jajan, minuman, atau suvenir di warung-warung kecil milik ibu-ibu desa yang mungkin belum menyediakan pembayaran digital.
- Jaga Kebersihan Lingkungan: Ini aturan yang nggak bisa ditawar. Jangan pernah membuang sampah sembarangan di desa ini. Kalau kalian habis makan jajan dan nggak langsung nemu tempat sampah, simpan dulu bungkus sampah kalian di kantong celana atau tas sampai kalian ketemu tempat sampah terdekat. Mari kita sebagai tamu ikut membantu warga menjaga predikat kebersihan desa ini.
- Izin Dulu Sebelum Memotret Warga: Kalau kalian pengen memotret warga lokal, apalagi yang sedang melakukan aktivitas adat atau sembahyang, usahakan lemparkan senyum dan minta izin secara sopan terlebih dahulu. Kebanyakan dari mereka akan dengan senang hati mengizinkan kok, tapi etika kesopanan tetap harus diutamakan.
Kesimpulan
Desa Penglipuran itu bukan cuma sekadar tempat wisata buatan yang biasa-biasa saja. Berkunjung ke kawasan ini rasanya seperti sedang diajak bernostalgia dan diingatkan kembali tentang cara hidup yang sederhana, selaras dengan alam, dan penuh rasa hormat antar sesama manusia. Kalian nggak cuma bakal bawa pulang foto-foto yang cakep buat diunggah ke media sosial, tapi kalian juga akan bawa pulang perasaan yang damai. Tempat ini ngasih kita inspirasi nyata tentang bagaimana sebuah komunitas masyarakat bisa menjaga dengan ketat warisan leluhur mereka di tengah dunia yang terus berubah jadi makin modern. Kalau kalian jalan-jalan ke Bali lagi, luangkanlah waktu setengah hari saja buat mampir ke sini. Dijamin, kalian nggak akan nyesel dan malah pengen balik lagi suatu hari nanti ngajak keluarga.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Buat kalian yang masih punya pertanyaan ganjal seputar rencana liburan ke Desa Penglipuran, silakan cek daftar pertanyaan yang paling sering ditanyakan di bawah ini.
- Desa Penglipuran lokasinya di mana persisnya? Desa Wisata Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Kalau kalian berangkat dari Bandara Internasional Ngurah Rai atau dari pusat keramaian daerah Kuta, perjalanan darat menggunakan mobil biasanya memakan waktu sekitar satu setengah sampai dua jam tergantung kondisi kemacetan jalan. Rute ke arah desa ini searah kalau kalian mau jalan-jalan ke kawasan Gunung Batur atau Kintamani.
- Berapa harga tiket masuk ke kawasan desa wisata ini? Harga tiket masuk ke Desa Penglipuran sangat bersahabat. Untuk wisatawan domestik atau warga negara Indonesia, tarif masuknya biasanya berkisar Rp 25.000 untuk orang dewasa dan Rp 15.000 untuk anak-anak. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara harganya berbeda, yaitu sekitar Rp 50.000 untuk dewasa dan Rp 30.000 untuk anak-anak. Pastikan bawa uang pas biar gampang di loket, ya.
- Kendaraan diparkir di mana kalau mobil dan motor tidak boleh masuk ke dalam desa? Kalian nggak perlu khawatir soal parkir. Pihak pengelola desa dan pemerintah setempat sudah menyediakan fasilitas area parkir yang sangat luas di bagian depan, tepat sebelum pintu masuk utama desa. Area parkir ini sangat aman dan ukurannya cukup besar untuk menampung puluhan mobil, minibus pariwisata, maupun sepeda motor. Dari tempat parkir ini, kalian cuma butuh jalan kaki santai sedikit saja buat sampai ke gerbang masuk area pemukiman desa.
- Jam berapa desa ini buka untuk wisatawan? Secara umum, jam operasional untuk kunjungan wisata ke Desa Penglipuran dibuka mulai dari jam 08.00 pagi sampai jam 17.00 sore Waktu Indonesia Tengah (WITA). Namun, desa ini sebenarnya adalah desa hidup tempat warga tinggal sehari-hari. Jam buka ini difokuskan pada pelayanan tiket dan ketersediaan toko suvenir. Kalau ada acara adat besar keagamaan, terkadang ada penyesuaian jam kunjungan.
- Apakah tempat wisata ini ramah untuk anak-anak dan orang tua (lansia)? Sangat ramah! Kontur jalan utama membelah desa dari ujung ke ujung cenderung landai, datar, dan permukaannya terbuat dari paving batu yang dipasang sangat rapi dan rata. Tidak ada undakan tangga yang terlalu curam di jalan utama, sehingga sangat nyaman dan aman untuk dipakai berjalan kaki santai oleh anak-anak balita maupun lansia. Selain itu, karena tidak ada kendaraan bermotor yang lalu lalang sama sekali, orang tua bisa jauh lebih tenang saat membiarkan anak-anak berjalan mengeksplorasi jalanan desa.
- Apa saja oleh-oleh yang paling cocok dibeli di sana? Desa ini terkenal dengan kerajinan bambunya. Jadi, selain kalian bisa membeli hiasan dinding, keranjang, atau anyaman dari bambu, kalian juga bisa mencari kain tenun tradisional khas Bali yang banyak dijual di dalam rumah warga. Jangan lupa juga untuk membeli Loloh Cemcem kemasan botol plastik yang sudah disiapkan warga untuk dibawa pulang ke hotel. Tapi perlu diingat, minuman tradisional ini dibuat tanpa bahan pengawet buatan, jadi sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas dan tidak dibiarkan terlalu lama di suhu ruang agar rasanya tidak asam.















