Bagi masyarakat Bali, lagu “Meong-Meong” tentu sudah tidak asing lagi. Tembang rare (lagu anak-anak) ini sering dinyanyikan saat bermain, khususnya dalam permainan tradisional “Meong-Meong dan Bikul” (Kucing dan Tikus). Di balik liriknya yang sederhana dan bernada ceria, lagu ini ternyata menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, keseimbangan alam, dan kritik sosial.
Lirik & Terjemahan
Meong-meong (Kucing-kucing)
Alih ja bikule (Carilah tikusnya)
Bikul gede-gede (Tikusnya besar-besar)
Buin mokoh-mokoh (Lagi pula gemuk-gemuk)
Kereng pesan ngerusuhin (Suka sekali membuat kerusuhan/merusak)
Juk meng, juk kul (Tangkap cing, tangkap kus!)
Arti Harfiah: Keseimbangan Alam (Ekosistem)
Secara kasat mata, lagu ini menggambarkan hubungan predator dan mangsanya dalam ekosistem agraria di Bali. Bikul (tikus) adalah hama utama di sawah yang sering merusak tanaman padi milik petani (kereng pesan ngerusuhin). Di sisi lain, Meong (kucing) bertindak sebagai predator alami yang membantu petani mengendalikan populasi tikus tersebut.
Lagu ini mengajarkan anak-anak sejak dini tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan rantai makanan agar kehidupan pertanian tetap berjalan seimbang.
Makna Filosofis: Pengendalian Hawa Nafsu
Jika dibedah lebih dalam secara spiritual (khususnya dalam konsep Hindu Bali), figur Meong dan Bikul adalah simbol dari pergolakan di dalam diri manusia:
Bikul (Tikus): Simbol dari sifat buruk, keserakahan, dan hawa nafsu yang tidak pernah puas (gede-gede dan mokoh-mokoh). Jika dibiarkan, sifat-sifat ini akan merusak tatanan hidup manusia (ngerusuhin).
Meong (Kucing): Simbol dari kesadaran, kebijaksanaan, dan akal sehat.
Kalimat “Juk meng, juk kul” (Tangkap cing, tangkap kus) adalah sebuah seruan atau perintah kepada diri kita sendiri. Artinya, gunakanlah kesadaran dan kebijaksanaan kita (Meong) untuk menangkap, mengendalikan, dan Menjinakkan hawa nafsu atau ego (Bikul) yang ada di dalam dada.
Kritik Sosial: Sindiran untuk Para “Tikus” Masyarakat
Dalam konteks modern, lagu “Meong-Meong” sering kali dijadikan metafora unik untuk mengkritik fenomena sosial. Istilah “tikus” kerap dikaitkan dengan para koruptor atau oknum-oknum yang serakah.
Lirik bikul gede-gede, buin mokoh-mokoh, kereng pesan ngerusuhin seolah dengan tepat menggambarkan sosok-sosok yang memperkaya diri sendiri dengan cara yang salah, sehingga merugikan masyarakat luas. Melalui lagu ini, masyarakat diingatkan agar hukum atau aparat penegak keadilan (bertindak sebagai Meong) harus tegas menangkap para perusak tatanan tersebut.












